aku malu jadi mahasiswa…..???

Ketika saya mengikuti ujian pertama dibangku perkuliahan, tepatnya ujian mid semester atau yang lebih sering dikenal oleh mahasiswa dengan ujian UTS, satu hal yang cukup membuat fikiran  saya terkesima, diikuti oleh lebih kurang tujuh buah kerut kening dan geleng-geleng kepala   adalah keanehan aktivitas rekan-rekan saya yang juga mengikuti ujian seperti saya. Saya sering duduk di barisan bangku depan ketika mengikuti ujian. Bukan untuk sok-sok berani atau sok pintar sich …duduk di bawah puncak hidung sang pengawas yang juga mempunyai beragam tindak- tanduk dan punya berbagai tric untuk mengawasi jalani ujian. Sebenarnya lutut saya juga bergetar-getar  duduk di depan  tetapi  apa mau dikata karena saya sering datang terlambat terpaksa diterima dengan suka rela. Bukan terlambat dari segi waktu sebenarnya, karena jadwal ujian masih lebih kurang sepuluh menit lagi akan dimulai, tapi terlambat dari teman-teman saya yang  setengah jam atau satu jam datang lebih awal. Mereka langsung menyater kursi yang srategis, tempat yang mungkin sering terabaikan dari perhatian pengawas. Mereka juga membooking tempat duduk buat teman-temannya yang tentu sepaham dengannya. Jadinya, saya terpaksa menerima kursi amat panas yang tentu saja tidak faforit untuk kalangan mahasiswa yang mengikuti ujian.

Hampir sebagian besar rekan yang seangkatan dengan saya yang melakukan hal ini, hanya beberapa orang yang bersikap biasa saja seperti saya. Ada beberapa hal yang amat menjadi tanda tanya besar dibenak  saya waktu itu mengapa:…?????

Ketika ujian mengapa rekan-rekan saya datang lebih sangat awal  setengah bahkan satu jam lebih cepat dari jadwal. Saya yang merasa on time justru merasa datang terlambat mendapati kelas yang sudah penuh sesak. Pada hari-hari biasa mereka datang justru lebih lambat setengah bahkan satu jam dari jadwal perkuliahan ,yang tidak jarang membuat para dosen naik pitam karena menggangu proses belajar mengajar. Telah menjadi pemandangan biasa bila dosen dengan nada lunak menyuruh balik kanan saja.
Ketika ujian saya melihat diskriminasi yang sangat besar dari sebagian besar rekan-rekan saya. Padahal ketika perkuliahan kita sama-sama belajar dan tempat duduk bukan menjadi persoalan, disamping siapapun duduk adalah nyaman, mungkin hanya ada beberapa orang saja yang memperhatikan kenyamanan tempat duduk ketika mengikuti proses perkuliahan. Saya memperhatikan system geng sangat tampak disini, mereka yang se geng duduk lebih berdekatan,tanpa satupun yang tercecer dari anggotanya. Saya memang tidak pernah merasakan berteman secara bergeng,berteman dengan siapa saja tentu lebih asyik menurut saya, tetapi setahu saya geng itu cuma untuk asyik-asyikan dan saling share bagi setiap anggotanya serta urusan lain apalah namanya itu, dan bukan termasuk bergeng dalam ujian.
Sebelum pengawas datang saya sempat menoleh kiri,kanan,depan dan belakang sambil cengar – cengir pada teman-teman saya, ,tiada maksud lain, hanya sekedar dalam rangka menghilangkan sedikit stress dan grogi menyambut soal yang bagaimanalah bentuknya nanti yang akan dibagikan penngawas. Saya memperhatikan ada beberapa tangan dibelakang saya yang sibuk tak menentu mengatur  letak kertas lipatan kecil seperti buku. Masih belum datang pengawas,saya berjalan sedikit kebelakang dan melihat buku kecil apakah gerangan yang sibuk diotak-atik. Ooo..oo..oo ternyata buku foto copyan catatan kuliah ukuran amat sangat mini menurut saya. Saya terkesima juga,, karena baru pertama melihat mungkin, kok ada ya copyan dengan pengecilan entah berapa kali?. Beberapa teman saya memiliki hal yang sama. Saya prihatin sebenarnya sembari juga acung empat jempol dech atas kesanggupan teman saya membaca huruf yang mungkin berukuran mikro dalam pandangan mata saya. Saya tahu itu jimat, “al jimatun minal sukses” dengan tampang suci mereka bergurau , saya balas dengan senyuman manis yang saya miliki tentunya..hehe……

Sejarah memang unik, hanya terjadi satu kali dan tidak akan pernah berulang. Tapi kenyataanya peristiwa ini terjadi beberapa kali, tidak jarang yang kepergok oleh pengawas saat ujian karena tingkah laku mencurigakan  mahasiswa, dengan konsekuensi diusir atau kertas ujian tidak  diperiksa. Namun yang namannya mahasiswa tetap saja lihai, semakin diintai oleh pengawas mereka semakin jeli untuk memergoti jimat yang mungkin sudah dipersiapkan beberapa hari yang lalu sebelum ujian, tidak pernah merasa jera…applause meriah…nich lau BGT. Sudah beberapa kali saya mengikuti ujian perkuliahan sampai sekarang,  sejarah tampaknya berulang-ulang. Saya kurang tahu apakah itu salah atau benar, yang jelas beberapa diantara kami menyalahkan hal ini terjadi, hal ini terutama karena tidak sesuai dengan kejujuran hati. Sebagian kami merasa menjadi orang gila diantara orang-orang gila yang merasa waras, terpaksa hanya bisa geleng-geleng kepala saja.

Mahasiswa adalah kaum intelektual. Kaum yang cerdas, berfikir logis dan ilmiah. Mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sebagai kaum intelek tentunya mahasiswa perlu menjaga sikap-sikap ilmiah seperti: jujur, apa adanya, tekun, ulet dan sebagainya. Dengan sikap yang demikian diatas, dimanakah kita sebagai kaum intelektual yang dibangga-banggakan sebagai generasi muda yang berkualitas.

Menconek dan melihat jimat waktu ujian, semua mahasiswa saya rasa tahu bahwa yang demikian itu bukan sikap ilmiah. Hal ini sama saja dengan menjunjung tinggi nilai kebohongan. Kita harus tahu diri, sebagian  kita bukanlah orang-orang yang amat sangat cerdas,dengan IQ diatas 150 keatas, dan bukan berasal dari universitas terkemuka kelas dunia seperti Havard University dan universitas lain yang setara dengannya, kita juga harus tahu apalah guna IPK Coumload kalau  ilmu tersebut hanya tinggal dalam copyan mini atau kepala teman saja. Jadi buat apa berangan-angan IPK empat jika didapat dengan proses yang tidak benar, nilai 4 itu nilai apa sebenernya????

Apakah kita harus bangga memperlihatkan IPK yang luar biasa wah pada orang tua kita jika hasil itu didapat dari hasil ketidak jujuran. Bukankah hal ini sama saja dengan menipu diri sendiri dan orang lain. biarlah IPK standar tetapi didapat dengan cara baik, hasil kerja keras dan ujian yang benar. Bangga dengan nilai intelegensi rendah dan nilai emosional tinggi adalah lebih baik. Bukankah 85% kesuksesan seseorang ditentukan oleh EQ mereka.

Mungkin ini terasa sebagai kritikan  pedes bagi sebagian rekan saya, bagaimana kita akan menjadi agent of change bila sejarah  buruk ini kita ulangi lagi.?. Kita menyadari bahwa kita bukanlah orang yang pintar dan setidaknya kita tidak akan membiarkan diri kita jatuh dalam kebodohan dengan mengerjakan tindakan-tindakan bodoh seperti di atas. Dimana letak harga diri kita kalau kita terus memupuk  sifat-sifat buruk ini, dimana letak penghargaan kita pada orang tua kita karena  memperlihatkan nilai kebohongan yang tinggi. Banyak orang- orang sukses disekitar kita mampu dengan mudah meraih impian mereka bukan karena kepintarannya, tapi justru karena sikap-sikap intelektual yang mereka miliki, maka dimana sikap kita sebagai mahasiswa menyikapi hal ini. Apakah kita akan menyia-nyiakan kepercayaan masyarakat banyak kepada kita??????????

Jangan sampai terucap kalimat” aku malu jadi mahasiswa!!!!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s