Renungan 30 September

Tentunya sebagai orang Indonesia  akan selalu mengingat peristiwa besar yang selalu dideskripsikan dalam buku sejarah, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Ya …itulah dia peristiwa yang mahadasyat, dimana watak manusia lebih kejam dari pada seekor srigala yang kelaparan. Pada saat itu sekelompok kecil manusia yang terdiri dari unsur jasmani tentu saja pada hakikatnya sama dengan hewan,   hanya menggunakan unsur kebringasan binatang untuk mendapatkan apa yang dicitakan, pembantaian manusia secara sadis, bahkan lebih buas kelihatannya dari pada tukang ayam potong di pasaran. Kenangan peristiwa 30 S-PKI dimana darah pemberontak yang liar dengan iming-iming membawa perubahan bangsa kearah yang lebih baik hanya meninggalkan goresan buruk dihati sanak famili korban yang ditinggalkan dan kini telah menjadi lembaran rapi dalam ensiklopedia sejarah Indonesia. Wajah-wajah nasionalisme yang teguh membela Negara seperti : Mayjen Anumerta Ahmad Yani, Letjen M.T Haryono, Kolonol Sugiono dan empat orang jendral lainnya harus rela terbenam dalam lubang buaya karena kebiadaban tentara PKI. Semoga budi luhur mereka menjadi pelita di alam kubur para pahlawan ini. Aminn…

Beranjak dari sejarah nasional, sebagai orang Sumatera Barat, terkenang pula tinta hitam yang senantiasa mewarnai setiap  rubrik koran dan majalah serta media informasi elektronik lainnya  sampai beberapa bulan pasca kejadian. 7.6 skala richter yang cukup membuat porak-poranda kota padang dan sekitarnya. Gempa  yang terjadi di lokasi 0.84 Lintang Selatan dan 99.65 Bujur Timur  berpusat di arah 57 kilometer barat daya Pariaman, Sumatera Barat . Getaran yang disinyalir sampai ke Malaysia dan Singapura ini telah membawa duka yang mendalam bagi ranah  minang khususnya dikisaran  hempasan kemarahan  lempeng tektonik bumi ini pada pukul 17.16 WIB, Rabu 30 September setahun silam. Lebih dari 1000 orang uni uda Ranah Minang  tewas dan lebih dari 200.000 luka-luka akibat bencana yang mungkin teguran ataukah  sebuah ujian dari Sang Khalid bagi Minang Kabau ini.

Pukul 17.16 WIB, suatu kejadian luar biasa sebagai kehendak yang kuasa mengatur segala urusan di bumi dan di langit dengan sematang-matangnya rencana. Jam kejadian yang cukup fantastis untuk dapat merenungkan salah satu ayat dalam Alquran surat ke 17 ayat 16 yang artinya:

dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu ( supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan ( ketentuan kami ) kemudian kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya”.(Q.S Al Israa’ ayat 16)

Dilihat dari efek yang ditimbulkan, ayat diatas cukup berkolerasi dengan gempa yang menggucang negeri Randang ini. Symbol-simbol kekuasaan menjadi topik hangat bagi sorotan media. Kantor Gubernur Sumbar, kantor Bapelda, hotel Ambacang, dan masih banyak symbol-simbol kekuasaan lain termasuk rektorat UNP menjadi sasaran empuk goncangan ini. UNP yang semula bagonjong tujuah berotasi menjadi bagonjong limo pasca gempa .Motto Padang kota tercinta ku jaga dan ku bela kian ikut berkontribusi bagi murkanya bumi rumah gadang ini. Panasnya kota Padang dan sekitarnya dipicu oleh Pergaulan yang semakin panas dari para remaja Karupuak Sanjai Balado, telah berkontribusi besar  dalam memancing kemarahan lempengan tektonik di bawah bumi andalas ini, ditengah berkecimuknya isu global warming akhir-akhir ini. Perlu direnungkan ada apa dengan warga kota Padang dan Penguasanya???

Setahun pasca gempa,apakah ada perubahan kearah  lebih baik yang tentu tidak dipandang dari segi infrastrukturnya?. Entahlah yang pasti hanya generasi ranah minang yang masih memegang erat pepatah nenek moyangnya “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” mampu berfikir dengan jernih menggunakan hati nurani dan logika akan kebenaran Ilahi serta dapat mempertahankan pribadi uni uda ranah minang yang sesuai norma. Renungkan juga apa yang mesti dilakukan karena Tsunami ada didepan mata dan siap menerjang ranah minang ini kapan saja…..


Renungan  30 september

Tentunya sebagai orang Indonesia  akan selalu mengingat peristiwa besar yang selalu dideskripsikan dalam buku sejarah, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Ya …itulah dia peristiwa yang mahadasyat, dimana watak manusia lebih kejam dari pada seekor srigala yang kelaparan. Pada saat itu sekelompok kecil manusia yang terdiri dari unsur jasmani tentu saja pada hakikatnya sama dengan hewan,   hanya menggunakan unsur kebringasan binatang untuk mendapatkan apa yang dicitakan, pembantaian manusia secara sadis, bahkan lebih buas kelihatannya dari pada tukang ayam potong di pasar. Kenangan peristiwa 30 S-PKI dimana darah pemberontak yang liar dengan iming-iming membawa perubahan bangsa kearah yang lebih baik hanya meninggalkan goresan buruk dihati sanak famili korban yang ditinggalkan dan kini telah menjadi lembaran rapi dalam ensiklopedia sejarah Indonesia. Wajah-wajah nasionalisme yang teguh membela Negara seperti : Mayjen Anumerta Ahmad Yani, Letjen M.T Haryono, Kolonol Sugiono dan empat orang jendral lainnya harus rela terbenam dalam lubang buaya karena kebiadaban tentara PKI. Semoga budi luhur mereka menjadi pelita di alam kubur para pahlawan ini. Aminn…

Beranjak dari sejarah nasional, sebagai orang Sumatera Barat, terkenang pula tinta hitam yang senantiasa mewarnai setiap  rubrik koran dan majalah serta media informasi elektronik lainnya  sampai beberapa bulan pasca kejadian. 7.6 skala richter yang cukup membuat porak-poranda kota padang dan sekitarnya. Gempa  yang terjadi di lokasi 0.84 Lintang Selatan dan 99.65 Bujur Timur  berpusat di arah 57 kilometer barat daya Pariaman, Sumatera Barat . Getaran yang disinyalir sampai ke Malaysia dan Singapura ini telah membawa luka yang mendalam bagi warga Sumatera Barat khususnya dikisaran  hempasan kemarahan  lempeng tektonik bumi ini pada pukul 17.16 WIB, Rabu 30 September setahun silam. Lebih dari 1000 orang uni uda Ranah Minang  tewas dan lebih dari 200.000 luka-luka akibat bencana yang mungkin teguran ataukah  sebuah ujian dari Sang Khalid bagi Minang Kabau ini.

Pukul 17.16 WIB, suatu kejadian luar biasa sebagai kehendak yang kuasa mengatur segala urusan di bumi dan dilangit dengan sematang-matangnya rencana. Jam kejadian yang cukup fantastis untuk dapat merenungkan salah satu ayat dalam Alquran surat ke 17 ayat 16 yang artinya:

“ dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu ( supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan ( ketentuan kami ) kemudian kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya”.(Q.S Al Israa’ ayat 16)

Dilihat dari effek yang ditimbulkan, ayat diatas cukup berkolerasi dengan gempa yang menggucang negeri randang ini. Symbol-simbol kekuasaan menjadi topik hangat bagi sorotan media. Kantor Gubernur Sumbar, kantor Bapelda, hotel Ambacang, dan masih banyak symbol-simbol kekuasaan lain termasuk rektorat UNP menjadi sasaran empuk goncangan ini. Motto Padang kota tercinta ku jaga dan ku bela kian ikut berkontribusi bagi murkanya bumi bagonjong ini. Pergaulan yang semakin panas dari para remaja karupuak sanjai turut andil besar sembari meningkatnya isu global warming.

Setahun pasca gempa,apakah ada perubahan kearah yang lebih baik?. Entahlah yang pasti hanya generasi ranah minang yang masih memegang erat pepatah nenek moyangnya “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” mampu berfikir dengan jernih menggunakan hati nurani dan logika akan kebenaran Ilahi serta dapat mempertahankan pribadi uni uda ranah minang yang sesuai norma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s